8 Adab I’tikaf pada Bulan Suci Ramadhan - Syaamil Quran

8 Adab I’tikaf pada Bulan Suci Ramadhan

Adab I’tikaf pada Bulan Suci Ramadhan

i'tikaf

I’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Suci Ramadhan adalah sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. untuk mengisi hari-hari terakhir Ramadhan, Rasulullah Saw. memilih untuk beri’tikafi di Masjid. Agar i’tikaf yang kita menjadi pengampun dosa-dosa yang telah dlalu, maka hendaknya menjaga dan memperhatikan adab-adab dan sunnahnya.

Lalu apa saja tata cara atau yang penting diperhatikan oleh seorang Muslim saat beri’tikaf? Syeikh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam kitabnya Mausuuatul Aadaab al-Islamiyah, mengungkapkan beberapa adab yang perlu dijaga dan diperhatikan dalam beri’tikaf. Beberapa adab i’tikaf yang perlu diperhatikan saat akan, sedang, dan mengakhiri i’tikaf itu antara lain :

  1. Niat yang benar

Menurut Syeikh Sayyid Nada, hendaklah seseorang meniatkan i’tikaf yang dilakukannya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, semata-mata hanya untuk mengharapkan keridhaan Allah Swt. dan menghidupkan sunnah Rasulullah Saw.

  1. Beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan

I’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah sunnah yang dicontohkan Rasulullah Saw. Diriwayatkan dari Aisyah ra. “Bahwasanya Rasulullah Saw. selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga Allah Swt. mewafatkan beliau. Kemudian, para istri Nabi beri’tikaf sepeninggal beliau.” (HR Bukhari dan Muslim). 

  1. I’tikaf di Masjid 

Menurut Syeikh Sayyid Nada, tidak sah seseorang beri’tikaf di rumahnya. Allah Swt. berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 187, “…. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya…” (QS Al Baqarah : 187)

Berdasarkan ayat tersebut, I’tikaf boleh dilakukan di Masjid. Bahkan, hendaknya di Masjid Jami, sehingga ia tak terpaksa keluar untuk melaksanakan Shalat Jumat. Dari Aisyah ra., “Sunnah bagi orang yang beri’tikaf adalah tak menjenguk orang sakit, tak menyeksikan jenazah, tak mendatangi wanita, tak menyetubuhinya, tidak keluar untuk suatu kepentingan kecuali yang memang harus dia lakukan, tak beri’tikaf kecuali puasa, dan tak beri’tikaf kecuali di Masjid Jami.” (HR Abu Dawud)

  1. I’tikaf di dalam tenda atau kubah (semacam tenda) di Masjid

Menurut Syeikh Sayyid Nada, i’tikaf di dalam tenda atau kubah akan membantu orang beri’tikaf untuk ber-khalwat dengan Rabbnya, bersendiri, dan tidak menyia-nyiakan waktu berbicara dengan orang lain. Hal itu, kata dia, dilakukan Rasulullah Saw.

Dari Aisyah ra., dia berkata, “Rasulullah jika ingin beri’tikaf, beliau mengerjakan shalat fajar kemudian masuk ke tempat i’tikafnya. Suatu kali beliau ingin beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, lalu Rasulullah Saw. memerintahkan agar didirikan kemah, maka dipancangkanlah…” (HR Bukhari dan Muslim)

  1. Memasuki tenda atau Masjid setelah fajar

Menurut Syeikh Sayyid Nada, hendaknya seseorang yang beri’tikaf memasuki tenda setelah Shalat Fajar awal sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Ibnu Hajar berkata, waktu memulai i’tikaf adalah setelah Shalat Subuh

  1. Tak keluar Masjid tanpa ada kepentingan darurat

Orang yang beri’tikaf hanya boleh keluar dari Masjid untuk buang hajat atau keperluan mendesak lainnya. Hal itu berdasarkan hadits dari Aisyah yang telah disebutkan pada poin ketiga

  1. Tak menyetubuhi istri atau mendatanginya

Berdasarkan hadits dan Surah Al Baqarah Ayat 187, orang yag beritikaf tak diperbolehkan menyetubuhi istrinya. Allah Swt. berfirman, “…. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya…” (QS Al Baqarah : 187)

  1. Bersungguh-sungguh dalam beribadah dan tak menyia-nyiakan waktu

Bersungguh-sungguh dalam beribadah dan tak menyia-nyiakan waktu merupakan tujuan awal I’tikaf. Orang yang beri’tikaf hendaknya memfokuskan diri untuk beribadah dan mecari Lailatul Qadar yang dijanjikan dalam Al Quran lebih baik dari seribu bulan.

Memasuki hari kesepuluh terakhir, Rasulullah Saw. kian bersungguh-sungguh beribadah. Dalam sebuah hadits yang berbunyi, “Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah Saw. mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Menurut Syeikh Sayyid Nada, yang dimaksud dengan mengencangkan kain sarung adalah bersungguh-sungguh dalam beribadah dan tak medatangi istri-istrinya, karena kesungguhan beliau dalam beribadah.

Wajib atas seseorang yang beri’tikaf agar memanfaatkan setiap waktu dan kesempatannya untuk beribadah, berdoa, merendahkan diri kepada Allah, membaca Al Quran, memohon ampun, berdzikir, mengerjakan Shalat, bertafakur (berpikir), dan bertadabur (merenung)

Sumber : Republika

Link Terkait