Cara Nabi Mengajarkan Kebaikan

muhammad-saw

“Sesungguhnya, Allah yang mengutusku sebagai seorang mualim

dan pemberi kemudahan (bagi manusia).”

— HR Muslim —

Para nabi dan rasul yang diutus oleh Allah Swt. untuk menyebarkan risalah-Nya, semua adalah para pengajar (mualim) yang ditugaskan untuk menyampaikan petunjuk dan kebaikan kepada umatnya. Tujuan diutusnya mereka adalah untuk membimbing umatnya agar menempuh jalan yang lurus, menyelamatkan mereka dari kegelapan menuju alam yang terang, dan mengajari mereka hal-hal yang belum diketahuinya. Untuk itu, Al Qur’an menyifati mereka sebagai mubasyirun (pemberi kabar gembira) dan mundzirun (pemberi peringatan). Allah Swt. Berfirman sebagai berikut.

Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS An Nisa’, 4: 165)

Dari seluruh nabi dan rasul yang diutus oleh Allah Swt., Rasulullah saw. adalah utusan terbesar sekaligus pemimpin para anbiyaa’. Beliau dididik dan diajari langsung oleh Allah Al ‘Alim, Zat Yang Maha Mengetahui. Al Qur’an menyebutkan sebagai berikut.

“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur‘an) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.” (QS Al Baqarah, 2: 151)

Dengan kedudukannya itu, Rasulullah saw. memikul tugas yang sangat berat untuk mengajari umatnya aneka ilmu dan kebaikan. Atas bimbingan Allah Swt. beliau mengajari para sahabatnya. “Telah diciptakan dari ta’limnya sebaik-baik generasi, dan menyelamatkan mereka dari kezaliman dan kejahiliyahan menuju cerahnya nur Islam. Para sahabat disucikan dengan keimanan mereka, dididik oleh Islam, dan ditinggikan dengan ihsan,” demikian ungkap Dr. Yusuf Al Qaradhawi tentang generasi yang diajari langsung oleh Rasulullah saw. Merekalah orang-orang beruntung yang bisa mereguk ilmu dari sumbernya. Kepada merekalah generasi selanjutnya belajar dan kemudian mengajarkannya kepada generasi berikutnya, hingga kita yang berada di akhir zaman. Tidak “halal” ilmu yang kita miliki jika tidak disandarkan dan diwarnai oleh ilmu Rasulullah saw. dan murid-murid terbaiknya.

Bagaimanakah Rasulullah saw. mengajarkan ilmu dan kebaikan kepada para sahabat? Ada beberapa cara yang kemudian banyak diadopsi oleh para pengajar di setiap zaman, termasuk pada zaman modern ini. Mari kita lihat sebagian di antaranya.

Suatu hari Rasulullah saw. berkumpul dengan para sahabat. Beliau bertanya, “Wahai sahabatku, tahukah kalian, siapa orang yang paling bangkrut?” Ada beragam jawaban yang diungkapkan para sahabat. “Orang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki dirham,” kata sebagian. “Orang bangkrut adalah orang yang banyak utang,” kata sebagian yang lain.

Rasulullah saw. kemudian bersabda sebagai berikut.

“Orang yang bangkrut dari kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (ganjaran) ibadah shalat, puasa, dan zakat. Namun sayang dia pun datang dengan membawa dosa. Dia telah mencaci orang ini, memfitnah orang itu, memakan harta orang ini, mengalirkan darah orang itu, dan memukul orang yang itu. Akhirnya semua kebaikannya diberikan kepada orang yang ini dan orang yang itu. Jika amal kebajikannya sudah habis sebelum dia bisa membayar (kesalahan)-nya, maka kesalahan orang-orang itu yang akan diambil dan ditimpakan kepadanya. Setelah itu dia dilemparkan ke neraka” (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Hadits ini sangat menarik, tidak hanya dari kandungannya tapi juga dari cara penyampaiannya. Rasulullah saw. mengajukan sebuah pertanyaan yang merangsang daya pikir para sahabat. Setelah mereka memutar otak, dan menjawab sesuai kapasitas pengetahuannya, Nabi kemudian memberikan jawabannya.

 Melalui hadits ini pula Rasulullah saw. memberitahu para sahabat sebuah definisi baru tentang orang yang bangkrut (mufhlis). Orang bangkrut bukan saja orang yang tidak memiliki harta duniawi saja, atau orang yang banyak utang. Orang yang paling bangkrut adalah orang yang memiliki banyak keburukan dan sedikit amal shalihnya. Jangkauannya tidak lagi sebatas dunia, namun sudah menyentuh akhirat yang notabene bersifat kekal abadi. Jawaban beliau sangat visioner, radikal dan langsung ke intinya.

Pola pembelajaran yang dicontohkan Rasulullah saw., tidak terbatas pada metode tanya jawab yang melibatkan aspek intelektual saja, sebagaimana diungkapkan Abu Hurairah tersebut, tetapi juga menggunakan serangkaian metode lainnya. Salah satunya adalah metode tausiyah atau taklim langsung. Dalam banyak kesempatan, khususnya setelah melaksanakan shalat berjamaah, Rasulullah saw. memberikan tausiyah atau ceramah kepada para sahabat tentang ajaran Islam. Di sini, Rasulullah saw. berperan sebagai guru di mana para sahabat sebagai murid menghadap langsung kepada beliau, menyimak tausiyah beliau, dan menanyakan apa yang belum diketahui.

Dr. Muhammad Utsman Najati dalam buku Psikologi Nabi: Membangun Pesona Diri dengan Ajaran Nabi saw. mengungkapkan beberapa metode pembelajaran lain, selain metode tausiyah sebagaimana disebutkan di atas, yaitu: metode imitasi (peniruan), metode trial and error (coba-coba berupa eksperimen pribadi), dan metode pengondisian. Dalam kenyataannya, empat metode pembelajaran ini sudah lazim dipraktikkan pada masa sekarang.

1. Metode Peniruan                                  

Metode peniruan adalah metode terpenting yang dipraktikkan Rasulullah saw. Caranya, Nabi mengerjakan sebuah amal dan para sahabat mengikutinya. Salah satunya dalam pelaksanaan shalat. Abu Hazim bin Dinar berkata, “Rasulullah saw. berdiri di mimbar, lalu beliau bertakbir dan orang-orang yang berada di belakang beliau pun ikut bertakbir. Lalu Rasulullah rukuk untuk kemudian turun sambil berjalan mundur. Kemudian beliau bersujud di ujung mimbar. Kemudian beliau kembali (ke atas mimbar) sampai selesai melaksanakan shalatnya. Setelah itu beliau menghadap para sahabat dan bersabda, ‘Sesungguhnya, aku berbuat seperti ini agar kalian mengikuti aku dan agar kalian memelajari cara shalatku’.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan An Nasa’i)

Di sinilah fungsi Rasululllah saw. sebagai teladan umat menemukan relevansinya. Dengan demikian, setiap gerak-gerik, ucapan, serta semua tingkah lakunya menjadi pedoman semua orang. Allah Swt. Berfirman sebagai berikut.

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS Al Ahzab, 33: 21).  

2. Metode Trial and Error

Metode trial and error dilakukan dengan melakukan serangkain uji coba untuk memecahkan masalah tertentu. Melalui metode ini seseorang akan belajar memberikan jawaban-jawaban baru untuk situasi yang dia hadapi, sehingga akhirnya terlatih memecahkan masalah. Dengan cara ini, seseorang bisa sampai pada derajat manusia arif.

Bukan orang yang sabar kecuali orang yang pernah mengalami kesalahan, dan bukan orang yang arif kecuali orang yang pernah melakukan uji coba.” (HR At Tirmidzi, Ahmad, dan Hakim)

Karena itu, Rasulullah saw. pernah mencontohkan metode ini. Thalhah bin Abdullah berkata, “Aku bersama Rasulullah saw. melewati sekelompok orang yang berada di pucuk pohon kurma. Kemudian beliau bersabda, ‘Apa yang sedang mereka lakukan?’ Orang-orang berkata, ‘Mereka sedang menyerbuki pohon kurma. Mereka mengawinkan sari bunga jantan dengan sari bunga betina sehingga terjadi proses penyerbukan.’. Rasulullah saw. bersabda, ‘Menurutku, hal tersebut sama sekali tidak dibutuhkan’.” Menurut riwayat, setelah mendengar informasi tersebut, para sahabat tidak lagi menyerbuki pohon kurmanya.

Ketika Rasulullah saw. mengetahui hal tersebut, beliau bersabda, “Kalau memang cara itu bermanfaat bagi mereka, boleh saja mereka melakukannya. Maka janganlah kalian menyalahkan aku (karena telah berpendapat berdasarkan) dugaan. Akan tetapi, jika aku memberitahukan sesuatu yang berasal dari Allah, maka ambillah! Karena sesungguhnya aku tidak akan pernah berbohong atas nama Allah Azza wa Jalla”. Dalam riwayat lain disebutkan, “Kalian lebih tahu mengenai urusan duniawi kalian.” (HR Muslim)

3. Metode Pengondisian

Menurut para ahli psikologi, manusia dikatakan belajar dengan metode pengondisian jika ada rangsangan inderawi yang menuntutnya melakukan sesuatu (memberikan respons). Rasulullah saw. sangat sukses menerapkan metode ini. Nuansa ketaatan mutlak kepada Allah Swt., berhasil beliau ciptakan di kalangan para sahabat. Pengondisian untuk shalat tepat waktu misalnya. Setiap sahabat akan merasa malu dan berdosa bisa tidak bisa menunaikan shalat tepat waktu plus berjamaah di masjid. Sampai-sampai Umar bin Khathab menginfakkan kebun kurmanya karena terlambat datang ke masjid. Para sahabat pun dikondisikan untuk selalu menyambut seruan berperang di jalan Allah. Siapa pun yang mengabaikan seruan ini akan mendapat “hukuman” dari masyarakat. Seperti kisah tiga sahabat yang “diasingkan” dengan tidak diajak bicara selama 40 hari, karena menolak ikut perang Tabuk.

Rasulullah saw. adalah manusia utama. Keutamaan beliau tidak hanya dari akhlak, kecerdasan, kefasihan bicara, atau kekuatan fisik saja. Beliau pun adalah pengajar terbaik bagi umat manusia. Bahkan, “ijasah mengajar” beliau diberikan langsung oleh Zat Yang Maha Berilmu. Dalam Al Qur’an disebutkan sebagai berikut.

Dialah yang mengutus seorang rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata,.” (QS Al Jumu’ah, 62: 2).

Dari uraian ini, kita bisa melihat bahwa metode pengajaran beliau tidak kalah mentereng dibanding dengan metode-metode pengajaran yang dikemukakan para pengajar dan psikolog masa sekarang, sebab sumbernya langsung dari Allah Swt., Zat Yang Maha Mengetahui Ilmu. r

“Barangsiapa berilmu dan beramal serta mengajarkannya,

maka dia pantas disebut orang besar di segala penjuru langit.”

— Nabi Isa Al Masih —

About Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Protected by WP Anti Spam