Haji : Ibadah Kaya Perlambang - Syaamil Quran

Haji : Ibadah Kaya Perlambang

Haji : Ibadah Kaya Perlambang

(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafas), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!.” (QS Al Baqarah : 197)

haji

Haji adalah ibadah yang sangat mulia. Ia merangkai semua aspek ibadah lainnya. Shalat memerlukan kesiapan rohani dan fisik. Zakat memerlukan kemampuan finansial. Puasa memerlukan kesiapan fisik. Bagaimana dengan ibadah haji? Ia memerlukan semuanya: kesiapan rohani, fisik, finansial, dan ilmu. Selain itu, ibadah haji hanya diwajibkan sekali seumur hidup dan tidak bisa dilakukan sembarang waktu. Dalam setahun, rangkaian ibadah haji hanya dilakukan dalam tempo lima sampai enam hari, mulai tanggal 08 sampai 12 atau 13 Zulhijah. Ibadah haji juga dilakukan di tempat-tempat yang telah ditentukan. Dimulai di Miqat (tempat dimulainya niat beribadah haji) kemudian Masjidilharam, Mina, Arafah, dan Muzdalifah.

Pakaiannya pun istimewa, sesuai dengan ketentuan syariat, yaitu untuk laki-laki, dua helai kain tanpa jahitan, tidak boleh menutup kepala, tidak memakai alas kaki yang menutup dua mata kaki; dan untuk perempuan, menutup seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan. Inilah yang disebut berpakaian ihram.

Ibadah haji melambangkan puncak “ketangguhan pribadi” dan “ketangguhan sosial”. Ibadah haji pun menjadi langkah penyelarasan nyata antara alam idealisme dan praktik juga penyelarasan antara iman dan Islam.

Sejatinya, haji adalah ibadah yang dipenuhi aneka perlambang yang maknanya mendalam. Kakbah adalah lambang kehadiran Allah Swt. Ketika kita berada di Masjidilharam, kita bebas menghadap Kakbah dari arah mana saja. Itulah lambang kehadiran Yang Mahakuasa dan bahwa Dia ada “di mana-mana”.

Perjalanan menuju Kakbah pun menjadi simbol dari “akhir” perjalanan. Ia adalah titik asal semua ciptaan Allah Swt. Kakbah adalah harapan dan cinta sehinnga ia senantiasa dirindukan orang-orang beriman. Jalaludin Rumi mengatakan bahwa Kakbah yang fisiknya berada di Mekah hakikatnya adalah perpanjang diri Kakbah yang berada di dalam hati manusia.

Menanggalkan pakaian yang biasa dipakai digantikan dengan hanya dua helai kain putih (kain ihram) merupakan simbol kuat kepasrahan dan penghilangan egosentrisme. Dalam pandangan Ali Syari’ati, pakaian ihram melambangkan pelepasan semua sifat buruk dalam diri, yaitu sifat serigala (kekejaman dan penindasan), tikus (kelicikan), anjing (tipu daya), dan kambing (penghambaan kepada selain Allah). “Lepaskan dan berperanlah sebagai manusia sesungguhnya!” kata Syari’ati

Dengan demikian, berihram adalah ikhtiar simbolik untuk meluruskan motivasi dengan membersihkan segala bentuk pikiran, perasaan, dan tindakan sehingga haji dituntut untuk mampu menghilangkan semua sifta buruk tersebut dalam dirinya. Kain ihram pun melambangkan hakikat kesetaraan umat manusia karena pakaian itu memang disyariatkan sama. Pakaian yang seolah-olah membisikkan suara Tuhan, “Mulailah dengan niat yang sungguh-sungguh untuk melengkapi kewajiban demi kewajiban.”

Orang yang melakukan tawaf, berputar mengelilingi Kakbah, hakikatnya sedang menanamkan di dalam hatinya kehadiran Allah. Apabila nama Allah sudah tertanam di dalam hati, di mana pun dan kapan pun seorang mukmin, akan selalu merasakan kehadiran-Nya.

Sai adalah pelambang. Sai itu artinya ‘usaha’. Kalau kita mau bersai, kita harus memulalinya dari Safa dan berkahir di Marwa. Safa itu artinya ‘suci’ dan Marwa artinya ‘puas’ atau ‘ideal’. Jadi, saat kita hendak berusaha, awalilah usaha itu dari kesucian lalu laksanakan dengan penuh kesungguhan hingga akhirnya kita akan bertemu dengan kepuasan.

Melempar jumrah adalah lambang. Jumrah adalah lambang setan dan lemparan adalah lambang permusuhan. Jadi, melempar jumrah melambangkan sebuah janji bahwa mulai saat ini kita akan bermusuhan dengan setan, tidak akan bekerja sama dengannya dalam bentuk apapun.

Mencium Hajar Aswad adalah lambang. Hajar Aswad melambangkan “tangan Allah”. Mencium Hajar Aswad ‘baik dari dekat maupun dari jauh’ melambangkan perjanjian, yaitu saat kita “menjabat” tangan Allah seakan-akan kita berkata, “Ya Allah, saya berjanji bahwa mulai saat ini. Saya telah masuk ke dalam lingkaran-Mu dan tidak akan pernah keluar dari lingkaran-Mu ini.”

Begitu pula dengann mikat, wukuf di Arafah, dan ritual-ritual haji lainnya. Semuanya mengandung makna yang sangat dalam. Maka dari itu, jangan heran apabila Allah Swt. memberikan kedudukan yang istimewa kepada ibadah haji. Keistimewaan ini secara tersirat terungkap dalam Al Quran.

Link Terkait