Keberadaan Allah SWT

allah

yunus

Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk (QS Yunus 10:45)

Kaum muslimin memercayai Allah Swt. sesuai dengan penjelasan Al-Qur`an. Mereka melihat tanda-tanda keberadaan Allah pada dunia nyata dan alam gaib kemudian mulai memercayai keagungan seni dan kekuasaan Allah.

Akan tetapi, jika umat berpaling dari Allah serta gagal bertafakur kepada Allah dan ciptaan-Nya, mereka akan mudah terpengaruh oleh keyakinan-keyakinan yang menyesatkan pada saat ditimpa kesusahan. Allah menyebutnya dalam surah Ali Imran ayat 154 mengenai umat yang menyerah dalam berperang. Seorang muslim seharusnya tidak melakukan kesalahan seperti itu. Oleh karena itu, dia harus membebaskan hatinya dari segala sesuatu yang dapat memunculkan prasang-ka jahiliah dan menerima keimanan yang nyata dengan segenap jiwa.

Cara untuk bertafakur dan menerima keimanan adalah dengan mengenal Allah SWT.

Kata Allah menunjuk kepada Tuhan yang tidak ada yang lain kecuali Dia.

Allah-lah satu-satunya Zat yang wajib disembah, dimintai pertolongan,

dijadikan tumpuan harapan, dan dijadikan tujuan hidup.

Allah’. Inilah nama pertama yang disebutkan Rasulullah saw. ketika menyebutkan rincian Asmaul Husna. Nama ini sangat unik dan khusus karena tidak bisa di-nisbat-kan kepada makhluk. Hal ini berbeda dengan nama-nama lainnya yang bisa disematkan kepada makhluk walaupun dengan cara penggunaan yang berbeda. Bisa saja seorang manusia memiliki nama yang bermakna ‘yang menyayangi’, ‘yang bersyukur’, ‘yang mengasihi’, ‘yang menguasai’, ‘yang bersifat adil’, dan sebagainya. Akan tetapi, ia tidak bisa menggunakan nama Allah atau nama yang bermakna Allah. Demikian ungkap Imam Al Ghazali.

Hal tersebut dikuatkan dengan pendapat Muhammad Abdul Halim bahwa Allah adalah nama Tuhan dalam arti mutlak, yaitu sebagai satu-satunya nama diri. Nama-nama indah lainnya hanyalah merupakan sifat atau atribut.

Dalam Al Qur’an, kata ini diulang sebanyak 2.698 kali. Dalam Al Qur’an pula, Tuhan sendiri yang menamai diri-Nya Allah.

Sesungguhnya, Aku adalah Allah. Tiada Tuhan selain Aku maka sembahlah Aku.” (QS Thaha, 20: 14)

Katakanlah (hai, Muhammad) Dialah (Tuhan yang ditanyakan orang Yahudi itu) Allah Yang Maha Esa.” (QS Al Ikhlas, 112: 1)

Para ulama berbeda pendapat mengenai asal kata Allah. Sebagian menyatakan bahwa kata Allah tidak diambil dari kata apa pun. Kata ini berdiri sendiri. Sebagian lainnya menyatakan sebaliknya, bahwa kata Allah tidak berdiri sendiri, tetapi diambil dari kata dasar aliha yang berarti ‘mengherankan’ atau ‘menakjubkan’. Disebut menakjubkan karena setiap perbuatan-Nya menakjubkan, sedangkan hakikat Zat-Nya akan mengherankan apabila dibahas secara mendalam.

Ada pula yang berpendapat bahwa kata Allah berasal dari kata alaha yang berarti tahayyana yang bermakna ‘bingung’ sebab ketika dipikirkan, Allah Swt. membingungkan akal dan pemahaman manusia. Pendapat lain menyatakan bahwa kata Allah berasal dari kata aliha ya’lahu yang berarti ‘tenang’ karena hati merasa tenang bersama-Nya. Makhluk menuju dan memohon karena harapan seluruh makhluk tertuju kepada-Nya.

Apa pun asal katanya, yang jelas, kata Allah menunjuk kepada Tuhan Yang Esa, tidak ada yang lain kecuali Dia. Allah-lah satu-satunya Zat yang wajib disembah, dimintai pertolongan, dijadikan tumpuan harapan, dan dijadikan tujuan hidup.

Zat Allah

Mengenai Zat Allah, Rasulullah saw. memberikan panduan bahwa kita dilarang untuk berpikir tentang Zat Allah, memikirkan bentuk-Nya, apalagi mereka-reka wajah-Nya, tangan-Nya, atau hal lainnya.

Berpikirlah tentang ciptaan Allah dan jangan memikirkan (Zat) Allah karena kalian tidak mungkin akan mampu memperhitungkan kadarnya.” (HR Abu Nu’aim)

Larangan ini bukan tanpa alasan. Memikirkan Zat Allah berarti kita memikirkan Yang Mahagaib, Zat yang tidak bisa dilihat, tidak bisa didengar, tidak bisa diraba, dan tidak bisa dicium. Intinya, keberadaan Allah sangat jauh dari pengamatan pancaindra. Tentu saja, dengan kondisi ini, sangat sulit bagi kita untuk memperoleh gambaran tentang wujud Zat-Nya.

Apabila kita memaksakan diri, jangan heran apabila kita tidak akan memperoleh hasil yang benar, bahkan bisa jadi hasilnya menyesatkan. Kemampuan akal kita memang terbatas. Dalam penelitiannya, Prof. Malik Badri mengungkapkan bahwa Allah terbebas dari ikatan ruang dan waktu yang mengungkung manusia. Sementara itu, manusia mustahil mampu menggambarkan suatu peristiwa apabila tidak dikaitkan dengan tempat dan waktu tertentu. Manusia juga tidak mampu mengkhayalkan sesuatu kecuali apabila ia mengaitkannya dengan pengalaman-pengalaman masa lalunya.

Beliau mendemonstrasikan hal tersebut dengan sebuah tantangan. “Cobalah Anda mengkhayalkan seekor hewan baru yang sama sekali berbeda dengan hewan yang pernah Anda lihat. Sekuat apa pun usaha yang Anda lakukan, hewan itu tidak bisa dikhayalkan kecuali dengan mengaitkannya dengan pengalaman-pengalaman yang ada di benak Anda. Misalnya, Anda gabungkan sayap satu hewan dengan kepala hewan lainnya. Contoh lain, Anda modifikasi sedikit bentuk salah satu hewan. Memikirkan hewan ini saja tidak bisa, apalagi memikirkan Zat Allah.”

Keterbatasan ini menunjukkan kelemahan dan ketidakberdayaan kita di hadapan Allah. Dengan kondisi ini seharusnya kita malu apabila bersikap sombong. Ingat, sekuat apa pun, secerdas apa pun, kita tetap makhluk yang terbatas dan sangat lemah di hadapan-Nya.

(Dikutip dari Asmaul Husna Effect)

About Author: admin

One thought on “Keberadaan Allah SWT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Protected by WP Anti Spam