Kisah Hijrah : Felix Siauw, Muallaf Sejuta Tekad - Syaamil Quran

Kisah Hijrah : Felix Siauw, Muallaf Sejuta Tekad

Felix Siauw merupakan keturuan Cina asli yang besar di Palembang. Semua bangsa Cina bebas buat memilih agama kecuali pantang bagi mereka beragama Islam. Nenek saya contohnya, beliau berpesan bahwa, “Kamu boleh beragama apa saja asal jangan Islam”, ujarnya.

Felix Siauw tumbuh dalam pemahaman seperti itu, maka tak heran jika dia juga memiliki pikiran yang sama dengan mereka. Hingga pada akhirnya, ia mendapatkan sesuatu yang tidak beres dan tidak masuk akal baginya. Sebut saja trinitas, penebusan dosa dan sebagainya. Hal itu kemudian tidak memuaskan akal nya. Dia lalu banyak bertanya kepada keluarga, bahkan pendeta, pastur dan sebagainya. Namun sayang sekali mereka tak bisa memberikan sebuah pencerahan dan penjelasan yang memuaskan. Dia semakin tidak mengerti ketika mereka menjelaskan bahwa Tuhan itu tiga dalam satu. Lalu dia bertanya “Terus yang menciptakan kita siapa ? Bapa, putra atau roh kudus ? Dan lagi jika memang Yesus itu Tuhan, mengapa dia harus memanggil Tuhan yang lain sebelum mati di kayu salib ?”

Keraguannya semakin bertambah ketika dia banyak membaca Alkitab. dia menemui kenyataan bahwa Tuhan banyak berbohong. Sebuah contoh, ketika di surga pertama-tama Tuhan mengatakan “Jangan makan buah ini, jika engkau makan kau akan mati.” Ternyata setelah mereka memakan buah tersebut, mereka tidak mati. Mereka malah punya pengetahuan, mereka malah mengetahui yang baik dan yang buruk. “Masak Tuhan berbohong” begitu pikirnya. Konsep-konsep inilah yang banyak ia tanyakan kepada pastur dan pendeta. Namun mereka hanya menjawab “Ya itulah iman”. Berkali-kali ia bertanya, namun tetap mendapat jawaban yang sama. Hingga pada akhirnya, Sampai disana ia berpikir lalu apa gunanya jika terus belajar tentang agama Katolik.

Akhirnya, sewaktu masih duduk di bangku SMP, secara fungsional ia memantapkan diri keluar dari agama Katolik. Ia tidak pernah ke gereja lagi, ia juga tidak ikut ibadah, walaupun KTP nya masih agama Katolik. Dia kemudian terus mencari jawaban dari semua pertanyaannya, dari mana asal Tuhan, siapa yang menciptakan, setelah mati manusia akan kemana dan sebagainya. Ia mencari dan terus mencari ke semua agama. Dari Kristen Protestan, Budha, Hindu, dll. Namun sama sekali ia tidak mendapatkan jawabannya. Hingga pada akhirnya, setelah 5 tahun pencarian ia dikenalkan oleh salah satu temannya kepada seorang ustad. Dari sinilah kemudian ia mendapatkan banyak pencerahan yang sesungguhnya, yang sebenar-benarnya.

Ketika suatu malam, saat mereka sedang berdiskusi, mereka sama-sama menyimak bacaan Alquran surat Al Baqarah ayat ke-2 yang artinya “Kitab ini tidak ada keraguan, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” Lalu ia katakan ini tidak mungkin, karena ketika ada kata sempurna berarti tidak akan ada kesalahan, kebimbangan dsb. Dia katakan lagi, ini buatan manusia jadi tidak mungkin”.

Lalu sang ustad menjawab, “Tidak, Alquran ini bukan buatan manusia, Kitab ini buatan Tuhan. Disini ada buktinya”. Setelah itu dibacakanlah tentang surab Al Baqarah ayat 23 “Dan jika kamu meragukan (Al Qur’an) yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat semisal dengannya, dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.

Hal itu benar-benar memukul kepala dia. Seakan-akan ada yang berkata kepadanya “Jika kamu memang benar, nggak usah banyak ngomong, tandingin aja deh. Buat yang sama dengan Al Qur’an. Jika kamu lebih baik, maka Al-Qur’an kalah, dan Islam ikut kamu. Kalau Kamu nggak bisa, ya udah kamu kudu nurut dan masuk islam.” itu sangat fair buat dia.

Setelah itu ia lihat ayat selanjutnya, ayat 24 yang artinya “Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” Dari sana ia tahu jika ayat itu begitu tegas dan jelas. Dia semakin yakin, bahwa yang membuat Al-Qur’an benar-benar Tuhan Semesta Alam, dari sanalah akhirnya ia memutuskan untuk beriman pada Islam.

Kini ia banyak menghabiskan waktu untuk berdakwah. Terutama mengajak seluruh keluarga besarnya untuk bisa mengimani Islam juga. Walaupun sampai sekarang usahanya masih belum Allah kabulkan, sampe saat ini belum ada diantara keluarganya yang memutuskan menjadi seorang muslim.

Berdakwah tidaklah mudah. Banyak halangan dan cobaan yang justru datang di kalangan orang Islam itu sendiri, ia berusaha untuk tetap teguh berada di jalan Allah. Sebab ia yakin Allah akan selalu menyertainya, selama ia mau untuk ikhlas melakukan semuanya karena Allah.

Link Terkait