Melempar Jumrah - Syaamil Quran

Melempar Jumrah

Melempar Jumrah

melempar jumrah

Melempar jumrah adalah satu kewajiban dalam haji yang harus dilakukan pada hari Ied dan tiga hari tasyriq. Melempar jumrah dilakukan setelah matahari condong ke barat, karena itu tidak boleh mendahulukan melempar sebelum waktunya. Adapun mengakhirkannya karena kondisi terpaksa seperti berdesak-desakan, maka mayoritas ulama memperbolehkan karena mengqiyaskan dengan keadaan para penggembala.

Melempar jumrah adalah simbol perlawanan manusia terhadap setan. Manusia harus melakukan perlawanan kepada setan karena selalu berupaya menyesatkan manusia dari jalan kebenaran dan menjauhkan mereka dari jalan Allah Swt. Melempar jumrah adalah simbol keteladanan Hajar yang menunjukkan sikap perlawanan terhadap setan.

Saat itu Iblis tampil dihadapan Ibrahim, dan berusaha memasukkan keraguan dalam hati Ibrahim tentang hajinya atau mendorongnya untuk membangkang terhadap Tuhannya.

Maka para jamaah yang akan melempar jumrah, hendaklah seorang hujjaj meniatkannya sebagai wujud kepatuhan mutlak kepada perintah Allah Swt., dengan menampakkan penghambaan diri sepenuhnya  dan melaksanakannya semata mata demi ketaatan kepada-Nya.

Seorang hujjaj harus membuang jauh-jauh pikiran yang dapat terjerumus oleh buaian setan. Sehingga jamaah harus bersungguh-sungguh dalam pelemparan jumrah demi menghinakan setan terkutuk.

Ada tiga jenis dalam melempar jumrah, yaitu jumrah ula, jumrah wusta, dan jumrah aqabah. Hal ini dilakukan secara berurutan. Dalam melempar jumrah menggunakan batu kerikil (hisha). Batu yang diperkenankan adalah batu sebesar buku jari.

Jamaah harus mengucap takbir setiap kali melempar, jamaah pun harus melempar kerikil tujuh kali pada setiap jumrah.  Batu yang dilemparkan harus tepat mengenai tugu jumrah dan masuk ke dalam lubang. Jamaah pun harus berdoa setiap kali menyelesaikan lontaran paa setiap jumrah.

Link Terkait