Mulianya Ibadah Haji ke Tanah Suci

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi; barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa; dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.”

(Q.S. al-Baqarah [2]: 197)

Haji adalah ibadah yang sangat mulia. Ia merangkai semua aspek ibadah lainnya. Shalat memerlukan kesiapan ruhani dan fisik. Zakat memerlukan kemampuan finansial. Puasa memerlukan kesiapan fisik. Bagaimana dengan ibadah ibadah haji? Ia memerlukan semuanya; kesiapan ruhani, fisik, finansial, dan ilmu. Selain itu, ibadah haji hanya diwajibkan sekali seumur hidup dan tidak bisa dilakukan sembarang waktu. Dalam setahun, rangkaian ibadah haji hanya dilakukan dalam tempo lima sampai enam hari, mulai tanggal 8 sampai 12 atau 13 Dzulhijjah. Ibadah haji juga dilakukan di tempat-tempat yang telah ditentukan. Dimulai di Miqat (tempat dimulainya niat beribadah haji), kemudian Masjidil Haram, Mina, ‘Arafah, dan Muzdalifah.

Pakaiannya pun istimewa, sesuai dengan ketentuan syariat, yaitu (1) untuk laki-laki, dua helai kain tanpa jahitan, tidak boleh menutup kepala, tidak memakai alas kaki yang menutup dua mata kaki, dan (2) untuk perempuan, menutup seluruh badan, kecuali muka dan telapak tangan. Inilah yang disebut ihram.

Dilihat dan rangkaian perjalanan yang dilaluinya, ibadah haji tampak semacam “napak tilas” perjuangan para Nabi dan orang-orang saleh, mulai dari Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Siti Hajar, hingga Rasulullah saw. Semua dialui para jamaah dalam rangkaian thawaf dan sa’i di Masjidil Haram, wukuf di ‘Arafah, dan mabit serta jumrah di Mina.

Ibadah haji melambangkan puncak “ketangguhan pribadi” dan “ketangguhan sosial”. Ibadah haji pun menjadi langkah penyelarasan nyata antara alam idealisme dan praktik; juga penyelarasan antara iman dan Islam.

Ali Syariati dalam bukunya, Haji (Pustaka, Bandung: 1983), menyebut ibadah haji sebagai sebuah “pertunjukkan akbar”. Dalam pertunjukkan tersebut, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi: Allah sebagai sutradaranya. Tema yang diproyeksikan adalah aksi dari orang-orang yang terlibat. Adam, Ibrahim, Hajar, Ismail, dan setan adalah pelaku-pelaku utamanya. Tempatnya meliputi Masjidil Haram, Mekah, Mas’a, Arafat, Masy’ar, dan Mina. Simbol-simbol yang penting adalah Kakbah, Shafa, Marwa, siang, malam, terbit dan terbenamnya matahari, berhala-berhala, dan acara kurban. Pakaian dan make up-nya adalah ihram dan tahallul (mencukur rambut); dan yang memainkan semua ini adalah para jamaah haji itu sendiri.

Ia kemudian mengungkapkan, “Wahai para jamaah haji, engkaulah yang berperan sebagai Adam, Ibrahim, dan Hajar dalam konfrontasi antara Allah dan setan. Sebagai akibatnya, engkau sendirilah yang merupakan pahlawan dalam pertunjukan itu”.

Maka dari itu, alangkah ruginya apabila seorang tamu Allah gagal dalam pertunjukan agung itu. Sangat malu pula apabila seorang jamaah tidak memahami skenario yang telah disusun sutradara. Jika demikian, kata “manistatha’a ilaihi sabiilaa; yang sanggup melaksanakan perjalanan haji” dalam Q.S. Ali Imrân: 97 bukan sekadar sanggup secara fisik dan keuangan, melainkan juga sanggup secara keilmuan dan ruhani. Seseorang yang akan berhaji harus menguasai syarat, rukun, dan makna-makna yang terkandung dalam ibadah haji.  

Sejatinya, haji adalah ibadah yang dipenuhi aneka perlambang yang maknanya mendalam. Kakbah adalah lambang kehadiran Allah. Ketika kita berada di Masjidil Haram, kita bebas menghadap Kakbah dari arah mana saja. Itulah lambang kehadiran Yang Mahakuasa dan bahwa Dia ada “di mana-mana”. Fainnama tuwallu fatsamma wajhullaahi; ‘ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah’ (Q.S. al-Baqarah [2]: 115).

Perjalanan menuju Kakbah pun menjadi simbol dari “akhir” perjalanan. Ia adalah titik asal semua ciptaan Allah. Kakbah adalah harapan dan cinta sehingga ia senantiasa dirindukan orang-orang beriman. Jalaluddin Rumi mengatakan bahwa Kakbah yang fisiknya berada di Mekah hakikatnya adalah perpanjangan dari Kakbah yang berada di dalam hati manusia.

Menanggalkan pakaian yang biasa dipakai digantikan dengan hanya dua helai kain putih (kain ihram) merupakan simbol kuat kepasrahan dan penghilangan egosentrisme. Dalam pandangan Ali Syari’ati, pakaian ihram melambangkan pelepasan semua sifat buruk dalam diri, yaitu sifat serigala (kekejaman dan penindasan), tikus (kelicikan), anjing (tipu daya), dan kambing (penghambaan kepada selain Allah). “Lepaskan dan berperanlah sebagai manusia sesungguhnya!” kata Syari’ati. Dengan demikian, berihram adalah ikhtiar simbolik untuk meluruskan motivasi dengan membersihkan segala bentuk pikiran, perasaan, dan tindakan sehingga seorang haji dituntut untuk mampu menghilangkan semua sifat buruk tersebut dalam dirinya. Kain ihram pun melambangkan hakikat kesetaraan ummat manusia karena pakaian itu memang disyariatkan sama; pakaian yang seolah-olah membisikkan suara Tuhan “mulailah dengan niat yang sungguh-sungguh untuk melengkapi kewajiban demi kewajiban.”

Orang yang melakukan thawaf, berputar mengelilingi Kakbah, hakikatnya sedang menanamkan di dalam hatinya kehadiran Allah. Apabila nama Allah sudah tertanam di dalam hati, di mana pun dan kapan pun seorang Mukmin akan selalu merasakan kehadiran-Nya.

Sa’i adalah perlambang. Sa’i itu artinya ’usaha’. Kalau kita mau bersa’i, kita harus memulainya dari Shafa’ dan berakhir di Marwah. Shafa itu artinya ’suci’ dan Marwah artinya ’puas’ atau ’ideal’. Jadi, saat kita hendak berusaha, awalilah usaha itu dari kesucian, lalu laksanakan dengan penuh kesungguhan hingga akhirnya kita akan bertemu dengan kepuasan.

Sa’i, berupa lari-lari kecil bolak-balik tujuh kali antara Shafa dan Marwah, mengajarkan kita untuk berusaha seoptimal mungkin. Tujuh adalah lambang banyak. Kalau kita tidak berhasil dalam usaha, padahal kita telah mengawalinya dengan kesungguhan, Allah pasti akan memberikan sesuatu di luar perkiraan kita. Dalam Q.S. ath-Thalaaq (65): 2-3, Allah Swt. berfirman, “… barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya; dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”.

Kita bisa melihat Siti Hajar, istri Ibrahim, yang “mencontohkan” ritual sa’i ini. Dalam kepayahan, ia berlari-lari antara Shafa dan Marwah untuk mencari air, tetapi tidak berhasil walau ia melakukannya sebanyak tujuh kali. Akan tetapi, karena usahanya tersebut bertitik tolak dari shafa (kesucian), Allah mengarunaikan kepadanya marwah, yaitu kepuasan berupa air bening yang berlimpah.

Melempar jumrah adalah lambang. Jumrah adalah lambang setan dan lemparan adalah lambang permusuhan. Jadi, melempar jumrah melambangkan sebuah janji bahwa mulai saat ini kita akan bermusuhan dengan setan; tidak akan bekerja sama dengannya dalam bentuk apa pun.

Mencium Hajar Aswad adalah lambang. Hajar Aswad melambangkan “tangan Allah”. Mencium Hajar Aswad—baik dari dekat maupun dari jauh—melambangkan perjanjian, yaitu saat kita “menjabat” tangan Allah seakan-akan, kita berkata, “Ya Allah, saya berjanji bahwa mulai saat ini, saya telah masuk ke dalam lingkaran-Mu dan tidak akan pernah keluar dari lingkaran-Mu ini.”

Begitu pula dengan miqat, wukuf di Arafah, dan ritual ritual haji lainnya. Semuanya mengandung makna yang sangat dalam. Maka dari itu, jangan heran apabila Allah Swt. memberikan kedudukan yang istimewa kepada ibadah haji. Keistimewaan ini secara tersirat terungkap dalam Al Qur’an. Ketika mewajibkan syahadat, redaksinya fa’lam annahu laa ilaaha illallaahu. Ketika memerintahkan shalat, redaksinya berbunyi aqimis shalaat. Ketika mewajibkan zakat, redaksinya wa aatuzzakaat. Ketika mewajibkan puasa, redaksinya kutiba ‘alaikumus ash shiyaam. Semuanya tidak mengandung kata lillaah (karena Allah) walau semua ibadah tersebut harus karena Allah Swt.

Bagaimana dengan perintah haji? Redaksinya menggunakan wa lillaahi alannaasi hijjul baiti. Mengapa kata lillaah menjadi tekanan? Alasannya, ibadah haji memerlukan persiapan-persiapan yang matang, meliputi persiapan ilmu, harta, fisik, dan persiapan takwa (keikhlasan). Harapannya, dengan sempurnanya persiapan, setiap jamaah haji mampu menepati janjinya di hadapan Allah dengan menerjemahkan lambang-lambang itu setelah kembali ke tanah air. Itulah haji mabrur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Protected by WP Anti Spam