Pejuang Muslim Berperan Besar dalam Kemerdekaan RI - Syaamil Quran

Pejuang Muslim Berperan Besar dalam Kemerdekaan RI

Pejuang Muslim Berperan Besar dalam Kemerdekaan RI

pejuang muslim

Memperjuangkan kemerdekaan Indonesia selama ratusan tahun dijajah tidaklah mudah. Pertumpah darah dipertaruhkan untuk keselamatan negeri ini. Pahlawan-pahlawan yang berjuang demi negeri ini harus dihormati sampai kapanpun. Pejuang dari sabang hingga merauke, pria dan wanita, hingga perbedaan agama.

Pejuang muslim mengambil peran penting dalam kemerdekaan Indonesia. Tidak sedikit ulama pada saat itu menyebarkan dakwah Islam ke berbagai pelosok. Namun sejarah tak menyebutkan banyak ulama yang ikut berjuang demi kemerdekaan Indonesia dan dakwah Islamnya.

Pengorbanan jiwa dan raga dalam perjuangan kemerdekaan, baik perjuangan melalui perang senjata maupun perang intelektual oleh umat Islam tidak terhitung banyaknya. Pengorbanan itu telah mengantarkan seluruh manusia di Indonesia dapat merasakan kemerdekaan. Peranan umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan telah diakui oleh para panglima TNI.

Tokoh agama serta pahlawan dalam memerjuangkan kemerdekaan diantaranya :

  1. Pangeran Dipenogoro

Dikutip dari muslimahdaily.com, sang panglima perang Dipenogoro merupakan kyai ternama di daerah tempat tinggalnya, Tegalrejo. Ia lahir dari keturunan Sultan Hamengkubuwana III namun memilih untuk tidak berpolitik tapi memilih untuk menjadi penasihat agama di tengah masyarakat. Bagi Pangeran Dipenogoro, perang melawan penjajah Belanda merupakan sebuah jihad. Pangeran Dipenogoro pernah menyatakan terhadap penjajah adalah perang stabil, yakni perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat perang stabil yang dikobarkan Pangeran Diponegoro tersebut kemudian berdampak pada berkobarnya semangat jihad hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seotrang da’I Kota Surakarta, Kyai Maja pun kemudian ikut bergabung dengan pasukan Dipenogoro melawan Belanda.

  1. Imam Bonjol

Adalah seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan Belanda dalam peperangan yang dikenal dengan nama Perang Padri pada tahun 1803-1838. Nama asli dari Tuanku Imam Bonjol adalah Muhammad Shahab yang lahir di Bonjol pada tahun 1772. Ia merupakan putra dari seorang alim ulama yang berasal dari Sungai Rimbang. Sebagai ulama dan pemimpin masyarakat setempat, Imam Bonjol memperoleh gelar, yaitu Peto Syarif, Malin Basa, dan Tuanku Imam. Tuanku nan Renceh dari Kamang, Agam sebagai salah seorang pemimpin dari Harimau nan Salapan adalah yang menunjuknya sebagai Imam (pemimpin) bagi kaum Padri di Bonjol. Ia akhirnya lebih dikenal dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol.

  1. Jenderal Sudirman

Nama Jenderal Sudirman sudah tidak asing lagi bagi warga Indonesia. Keberaniannya menjadikan beliau sebagai panglima besar Tentara Nasional Indonesia. Soedirman tumbuh menjadi seorang siswa rajin, kerap mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, termasuk mengikuti program kepanduan yang dijalnkan oleh organisasi islam Muhammadiyah.

Dilansir dari Republika.co.id, Sebagai Panglima TNI, jenderal Soedirman mampu menjalankan tugasnya dengan baik, bahkan mungkin mampu menjadi satu-satunya panglima TNI yang tidak mampu ditangkap oleh pihak Belanda. Menurut Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid saat berbicara pada sosialisasi Empat Pilaryang digelar di MPR RI, ada tiga hal mulia yang dilaakukan Jenderal Soedirman pada masa hidupnya. Pertama, ia senantiasa menjaga diri dalam keadaan suci dengan cara menjaga wudhu. Jenderal Soedirman juga selaly berusaha shalat di awal waktu serta selalu berbakti kepada orang tua. Tiga hal itu, menurut Hidayat merupakan hal-hal baik yang diajarkan Islam dan terbukti dapat dirasakan manfaatnya oleh orang yang melaksanakannya.

Perjuangan pahlawan terdahulu telah kita rasakan hingga saat ini. Dari perbedaanlah Indonesia terbentuk. Hargai perjuangan pejuang terlebih dahulu, jaga atas apa yang telah mereka perjuangkan.

Link Terkait