Pribadi Qurani

alvin-hafidz-cilik

alvin-hafidz-cilikUmat muslim sepatutnya menjadikan nilai-nilai Al Quran sebagai pedoman hidup. Namun, kenyataannya, masih banyak kaum muslimin yang menjadikan Al Quran sebagai bahan bacaan, belum menyerap apalagi mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, yang lebih parah, hanya menjadikan Al Quran sebagai hiasan dinding rumah.

Berdasarkan interaksinya dengan Al Quran, Ustadz Abdul Azis Abdur Rauf, membagi masyarakat muslim ke dalam tiga kelompok.

Pertama, kelompok yang masih sangat jauh dari Al Quran. Orang-orang dalam kelompok ini tidak bisa membaca Al Quran apalagi menjadikan bacaan itu sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt. Ustad Abdul Azis menyebut kondisi tersebut sebagai musibah besar, karena mereka tidak menyadari dan merasakan bahwa di sekelilingnya ada sebuah kitab yang disebut hudan (petunjuk jalan) dan menjadi rahmat.

Kedua, kelompok yang sudah menyadari keberadaan Al Quran sebagai hudan, namun pemahamannya masih parsial. Ada yang memahami Al Quran sekadar bacaan. Ada yang memahaminya sebagai hiasan kaligrafi, ada pula yang memahami Al Quran sebagai bacaan untuk orang mati.

Ketiga, kelompok yang memahami Al Quran dan segala fungsinya dengan sungguh-sungguh. Merekalah yang bisa disebut sebagai pribadi Qurani, karena interaksi dengan Al Quran sudah utuh mereka laksanakan, mulai dari rajin membaca, menghafal, menghayati dan mengamalkan. Kemudian fungsi-fungsi Al Quran sebagai petunjuk, rahmat dan nasihat pun sudah mereka rasakah.

Keberadaan kelompok ketiga ini mungkin baru kisaran satusan ribu orang dari jumlah umat islam di negeri ini yang mencapai ratusan juta.

“Karenanya, mereka yang berada dalam kelompok ini harus menyadari pentingnya kejamaahan dalam melaksanakan Al Quran dengan baik dan menyebarkan kemampuan tersebut kepada masyarakat.”

Bagaimana menjadi Pribadi Qurani

Sosok paling tepat sebagai pribadi Qurani yang utuh tidak lain adalah Rasulullah saw. Setiap ucap dan gerak beliau dalam kehidupan sehari-hari dilandasi oleh keluhuran dan kemuliaan nilai-nilai Al Quran. Rasulullah saw adalah sosok kepribadian Qurani yang membangun interaksi yang utuh dengan Al Quran. Makanya, beliau disebut sebagai Quran berjalan.

“Rasulullah adalah orang yang paling paham Al Quran dan pemahamannya ini diamalkan. Artinya, diterjemahkan betul ke dalam kehidupannya. Sepanjang hidupnya, Rasulullah tidak terlepas dari apa-apa yang dicita-citakan oleh Al Quran,” ujar Ustadz Abdul Azis.

Lebih lanjut, pendiri Markaz Al Quran ini menjelaskan, mereka yang belum dapat berinteraki secara utuh dengan Al Quran, baru hanya bisa membacanya, atau baru bisa menghafalnya, bukanlah pribadi Qurani.

“Saya kira, Insya Allah, semua orang beriman itu sudah bisa disebut pribadi Qurani, hanya mungkin berbeda bobotnya. Kalau dibuatkan nilai, ada yang nilainya baru 6, 7, 8 dan seterusnya. Mereka yang paling berusaha mengikuti kehidupan Rasulullah, yang terdapat kesesuaian antara apa yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dengan apa yang diminta Al Quran, itulah pribadi Qurani.” jelasnya.

Untuk menjadi pribadi Qurani, diperlukan daya dukung. Bentuknya bervariasi. Ada daya dukung pribadi, yang dengan penuh kesadaran mempelajari Al Quran. Daya dukung keluarga, yaitu masih adanya anggota keluarga yang “bawel” menyuruh atau mengupayakan anak-anaknya, untuk belajar Al Quran. Kemudian, daya dukung berbentuk sistem pendidikan, sistem politik dan sistem sosial. Bila semua daya dukung ini ada dan dirasakan seseorang, maka, jalan menuju terbentuknya pribadi Qurani lebih mudah dan mulus.

Semua daya dukung tersebut saling memengaruhi. Ketika seseorang sudah memiliki daya dukung pribadi, yang bertemu dengan daya dukung pendidikan atau politik, tentu akan menghadirkan kesadaran lebih baik lagi untuk menjadi pribadi Qurani. Tapi, jika tidak mendapatkan daya dukung dari luar, menurut Ustadz Abdul Azis, daya dukung pribadi pun sudah bisa menyelamatkan seseorang dari musibah besar akibat jauh dari Al Quran.

Karena itu, Sahabat Syaamil, sempatkanlah untuk membaca Al Quran dan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari – hari. Ayo ngaji tiap hari!*** (roni ramdan/ sumber: Majalah Ummi, Agustus 2009)

About Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Protected by WP Anti Spam