Sejarah Singkat Penyembelihan Hewan Qurban - Syaamil Quran

Sejarah Singkat Penyembelihan Hewan Qurban

Sejarah Singkat Penyembelihan Hewan Qurban

Sejarah Singkat Penyembelihan Hewan Qurban

Ismail berusia belia ketika memulai perjalanannya menuju Allah Swt. Ibunya membawanya dan menidurkannya di atas tanah, yaitu tempat yang sekarang kita kenal dengan nama telaga zamzam dalam Ka’bah. Saat itu tempat yang dihuninya sangat tandus dan belum terdapat telaga yang memancar dari bawah kakinya. Tidak ada di sana setitis air pun. Nabi Ibrahim meninggalkan isterinya, Hajr, bersama anaknya yang kecil. “Wahai Ibrahim ke mana engkau hendak pergi dan membiarkan kami di lembah yang kering ini?” Kata Hajr. “Wahai Ibrahim di mana engkau akan pergi dan membiarkan kami? Wahai Ibrahim ke mana engkau akan pergi?” Si ibu mengulang-ulang apa yang dikatakannya. Sedangkan Nabi Ibrahim diam dan tidak menjawab. Kita tidak mengetahui secara pasti bagaimana perasaan Nabi Ibrahim saat meninggalkan mereka berdua di suatu lembah yang tidak ada di alamnya tumbuh-tumbuhan dan minuman. Namun Allah Swt. telah memerintahkannya untuk tinggal di lembah itu. Dengan lapang dada Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah Swt.

Inilah Hajr yang sendirian bersama anaknya di lembah yang terasing dan tandus, di mana ia tidak mengetahui rahsia di balik tempat itu. Inilah Ismail yang memulai perjalanannya menuju Allah Swt. saat masih menyusui. Ia mengalami ujian saat masih kecil dan juga ujian bagi ayahnya, di mana ia mendapatkan seorang anak saat sudah tua. Nabi Ibrahim menyedari bahawa manusia tidak memiliki sesuatu pun dalam dirinya. Dan seseorang yang cinta kepada Allah Swt. akan memberikan dirinya kepada Allah Swt. dan akan memberikan apa yang di sukai oleh dirinya kepada Allah Swt. tanpa harus diminta. Itu adalah hukum cinta yang dalam. Kami tidak percaya bahawa Nabi Ibrahim mengetahui mengapa ia harus meninggalkan Ismail dan ibunya di tempat itu. Kami tidak mengira bahawa Allah Swt. telah memberitahunya. Allah Swt. hanya menurunkan perintah dan Ibrahim hanya menaatinya. Di sinilah tampak kerasnya ujian dan kesulitannya. Di sinilah cinta yang paling dalam diungkapkan, dan di sinilah cinta yang murni dituangkan.

Allah Swt. menguji Ibrahim dengan suatu ujian yang sangat keras, di mana umumnya para orang tua berat sekali melakukannya. Bukan bererti bahawa cinta Allah Swt. kepada Ibrahim dan cinta Ibrahim kepada-Nya menjadikan Ibrahim tidak memiliki perasaan kemanusiaan. Kekuatan cintanya pada Allah Swt. justru menjadikan sebagai lautan dari perasaan kemanusiaan, bahkan lautan yang tidak bertepi. Perasaan beliau terhadap Ismail lebih besar, lebih lembut, dan lebih sayang dari perasaan ayah mana pun terhadap anaknya. Meskipun demikian, beliau rela meninggalkannya di tempat yang tandus kerana Allah Swt. memerintahkan hal tersebut. Terjadilah pergelutan dalam dirinya namun ia mampu melewati ujiannya dan beliau memilih cinta Allah Swt. daripada cinta anaknya.

Ketika Nabi Ibrahim menampakkan kecintaan yang luar biasa dari yang seharusnya kepada anaknya, maka Allah Swt. memerintahkannya untuk menyembelihnya. Allah Swt. agar hanya Dia yang menjadi pusat cinta para nabi-Nya. Barang siapa yang mencintai Allah Swt., maka ia pun harus mencintai kebenaran dan orang yang mencintai kebenaran adalah orang memenuhi hatinya dengan cinta kepada Penciptanya semata. Ismail mewarisi kesabaran ayahnya. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah Swt. sebelumnya:

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang soleh. (QS As Saffat : 100)

Allah Swt. menjawab:

“Maka, Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seoranng anak yang sangat sabar (Ismail).” (QS  As Saffat :101)

Kesabaran yang sama yang terdapat pada ayahnya, kebaikan yang sama, ketakwaan yang sama, dan adab kenabian yang sama pula. Ismail mendapatkan ujian yang pertama saat beliau kecil dan ujian itu berakhir saat Allah Swt. memancarkan zamzam dari kedua kakinya sehingga darinya ibunya minum dan menyusuinya. Kemudian Ismail mendapatkan ujian yang kedua dalam hidupnya saat ia menginjak masa muda:

“Maka, ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS As Saffat : 102)

Apa yang Anda kira terhadap jawaban si anak? Ia tidak bertanya tentang sifat dari mimpi itu, dan ia tidak berdebat dengan ayahnya tentang kebenaran mimpi itu, tetapi yang dikatakannya: “Wahai ayahku laksanakanlah apa yang diperintahkan. “Janganlah engkau gelisah kerana aku dan janganlah engkau menampakkan kesedihan dan keluh-kesah. “Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Demikianlah jawaban seorang anak yang soleh terhadap ayahnya yang soleh. Itulah puncak dari kesabaran dari seorang anak dan tentu orang tuanya lebih harus bersabar. Itu bagaikan perlumbaan di antara keduanya untuk menguji siapa di antara mereka yang paling sabar. Perlombaan yang tujuannya adalah meraih cinta Allah Swt.

Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Ismail di dalam Kitab (Al Quran). Dia benar-benar seorang yang benar janjinya, seorang rasul dan nabi. Dan dia menyuruh keluarganya untuk (melaksanakan) shalat dan (menunaikan) zakat, dan dia seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.” (QS Maryam : 54-55)

Link Terkait