Tahallul - Syaamil Quran

Tahallul

Tahallul

tahallul

Tahallul berasal dari kata halla yang berarti halal. Tahallul bermakna menjadi boleh, dihalalkan, atau menghalalkan beberapa larangan. Dalam istilah fikh, tahallul berarti keluar dari keadaan ihram karena telah selesai menjalankan amalan haji seluruhnya atau sebagian yang ditandai dengan mencukur atau menggunting beberapa helai rambut.

Laki-laki disunahkan mencukur habis rambutnya dan wanita menggunting ujung rambut sepanjang jari. Tahallul dengan mencukur rambut itu pun masih terbagi dua. Pertama, halq (mencukur gundul). Kedua, taqshir (memangkas). Dan, kedua jenis tahallul mencukur rambut ini diperkenankan.

Saat Rasulullah Saw. mengerjakan haji wada’ dan usai beliau melontar jumrah aqabah pada 10 dzulhijjah, lalu Nabi memanggil tukang cukur untuk mencukur gundul (halq) rambutnya.

Para sahabat pun mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah Saw. dengan mencukur gundul kepala mereka. Namun, ada beberapa sahabat yang hanya memangkas (taqshir) rambutnya.

Ibnu Umar ra. meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Saw. dengan bercukur lalu berdoa, “Ya Allah rahmati orang yang mencukur gundul kepalanya…!” belaiau mengulanginya tiga kali. Lalu, ada seorang sahabat yang bertanya, “Bagaimana dengan orang yang hanya memangkas rambutnya saja?” Maka Rasulullah SAW berdoa, “Ya Allah juga (rahmati) orang yang memangkas rambutnya.”

Maka, dari keterangan hadits di atas yang lebih utama dilakukan oleh seorang jamaah haji maupun umrah saat mereka bertahallul adalah memangkas seluruh rambut atau menggundulnya.

Sebab, mereka yang mencukur gundul rambut akan mendapatkan tiga kali doa Rasulullah Saw. dibanding mereka yang hanya memangkasnya. Namun, ketentuan ini hanya berlaku bagi jamaah haji dan umrah pria, bukan wanita.

Tahallul ini wajib adanya bagi orang yang berihram, bagi mereka yang meninggalkan tahallul akan dikenakan fidyah sebesar satu ekor kambing.

Adapun orang yang sudah selesai mengerjakan umrah namun ia terlupa melakukan tahallul dan kemudian ia mengganti kain ihram dengan pakaian biasa, pada kasus ini bila ia tersadar maka ia harus melepaskan pakaiannya dan kemudian mencukur rambutnya.

Setelah ia bertahallul, ia diperkenankan kembali untuk mengenakan pakaiannya. Bila ia tersadar namun ia tidak melakukan hal di atas, ia harus membayar fidiyah/dam. Demikian, pendapat para ulama dalam hal ini. Wallahu a’lam.

Sumber: republika

Link Terkait